Kemajemukan, Kebhinekaan dan Kemerdekaan di Nusantara

Beberapa hari lagi Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekannya yang ke tujuh puluh satu. Negara dengan kemajemukan budaya yang begitu tinggi, tentu juga memerlukan sikap toleransi yang tinggi terhadap keberagaman budaya, adat dan tradisi yang hidup dan lekat di tengah-tengah masyarakat di Indonesia. Layaknya semboyan yang gue kenal sejak SD, Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-beda namun tetap satu jua.

Tapi, gue merasa semboyan apik dan (yang seharusnya) menjadi landasan toleransi dan harmonisasi kemajemukan Indonesia itu sudah lama redup, tenggelam, dan tak terdengar lagi beberapa tahun belakangan ini. Lo juga merasakan hal yang sama kan?

Sampai akhirnya gue mendengar lagi gaung Bhinneka Tunggal Ika yang diusung oleh organisasi-organisasi independen pro-kebebasan yang ingin mengembalikan lagi nilai-nilai kemajemukan dan toleransinya.



Malam itu,  11 Agustus 2016, gue mengenal organisasi Forum Muda Berbuat Bertanggung Jawab (Forum MBB), Liberty Studies dan Freedom Society yang mengadakan Pidato Kebebasan dan Kebudayaan yang disimbolkan dengan "Gema Bhinneka Merdeka." Organisasi-organisasi ini menilai sikap toleransi terhadap kemajemukan Indonesia kian menurun yang tentu akan menggeser eksistensi keberagaman dan nilai-nilai adat tradisi yang melekat pada kelompok-kelompok budaya minoritas.

Beberapa contoh yang terjadi adalah protes-protes yang dilakukan terhadap kelompok kesenian, kelompok adat dan pakaian adat yang dinilai tidak mencerminkan moral bangsa. Gue jadi teringat dengan kasus protes yang ditujukan kepada Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi, yang berusaha membangun kembali budaya Sunda dengan pembangunan patung-patung dan dituduh sebagai pemimpin yang sesat dan syirik.

Pandangan Arman Dhani tentang Penerimaan Adat di tengah Masyarakat Modern


Tak hanya itu, ada juga fakta bahwa beberapa Perusahaan atau Pemerintahan pun menolak calon pegawainya jika memiliki tato. Lagu bagaimana dengan masyarakat adat yang menjunjung tinggi nilai adat tato tradisi? Misalnya saja masyarakat adat dayak dan mentawai? Bagi mereka tato adalah simbol dan proses kehidupan yang harus dijalani dan menggambarkan perjalanan hidupnya dari lahir hingga meninggal? Beberapa kelompok masyarakat minoritas seperti ini terasa tidak mendapatkan toleransi ya di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern?

Adakah UU Pelarangan Tato di Indonesia?


Berangkat dari semakin meningkatnya sikap intoleransi yang terjadi di Indonesia ini, organisasi-organisasi pro kebebasan ini mengusung "Deklarasi Aliansi Kebhinekaan." Deklarasi ini mengungkapkan pemikiran bahwa kemajemukan harus bisa diterima bersama, tanpa adanya perbedaan, seperti yang dinyatakan oleh Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) tentang pluralisme. Deklarasi ini dipimpin oleh Rudolf Dethu, pendiri Forum Muda Berbuat Bertanggung Jawab (Forum MBB) bersama dengan 23 LSM dan forum pemuda lainnya.

Deklarasi ini hendak menyatakan perlunya toleransi dan solidaritas atas keberagaman dan kemajemukan serta kebebasan menggunakan hak untuk memilih dan berbuat dengan penuh tanggung jawab. Aspirasi-aspirasi ini disampaikan melalui Pidato Kebudayaan yang disampaikan oleh Rudolf Dethu, Rocky Gerung, Ulil dan Arman Dhani.

Perbincangan malam itu juga menyinggung tentang RUU Larangan Minol (Minuman Beralkohol). Buat gue RUU ini pro-kontra. Di satu sisi, RUU ini berusaha untuk meminimalisir akibat-akibat negatif bagi seorang peminum yang tidak bertanggung jawab dan mengganggu orang lain. Namun di sisi lain, ada beberapa kelompok masyarakat yang memiliki adat tradisi minum minuman tradisional yang juga mengandung alkohol. Misalnya saja minuman tuak, lapo, ciu, arak bali, sopi, dan lapen.

Yang menarik, arak bali digunakan untuk upacara adat. Arak ini biasanya digunakan unuk menghormati para dewata yang dituangkan ke daun pisang yang kemudian dicipratkan dengan bunga. Lalu jika ada larangan Minol, akan kah arak Bali yang digunakan untuk upacara adat juga akan dilarang? Entah. Bagi gue, gue menghormati segala nilai-nilai adat dan budaya yang dianut oleh masyarakat di Indonesia. Dengan catatan kebebasan itu harus bertanggung jawab dan tidak mencederai kebebasan orang/kelompok lain.

Tradisi Minum Ciu, Tuak, Sopi, Lapen di Zaman Dulu


Pilihan gue adalah menghormati keragaman dan kemajemukan di Indonesia. Terutama keragaman dan kemajuemukan adat budayanya yang tidak bisa disamaratakan secara nasional dengan nilai-nilai dan moral-moral tertentu. Karena bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Salam Bhinneka Tunggal Ika.

Comments

  1. Replies
    1. makasih mba, ga sabar juga nih baca tulisan mba eni :)

      Delete
  2. iya betul, aku setuju dengan pilihan menghormati keragaman dan kemajemukan di Indonesia :). Salam kenal, mba Wulan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, dengan beragam kemajemukan kita mesti punya tingkat toleransi dan saling menghargai banget.

      Delete
  3. sependapat...dan suka pemakaian "gue" pas banget dengan #PilihanGUe

    ReplyDelete
  4. Pergesekan nilai dan budaya akan terus terjadi Mba wulan. Kehidupan dinamis, yang terpenting adalah saling menghormati. Budaya dulu, kini dan yang akan datang berbeda..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas bisa saling menghargai dan menghormati itu penting banget kan di Indonesia

      Delete
  5. Iya ya. Negara ini negara yang kaya akam keberagaman. Banyak hal yang ga bisa langsung digeneralisasi.

    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat mba, generalisasi dengan kemajemukan budaya yang sangat beragam sulit, bahkan mungkin mustahil.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketika Pengetahuan Budaya Indonesia Menjelma Dalam Kode-Kode Nusantara

Icip-icip Bakso Bom "Beranak" Mas Erwin

“Saingi Raja Ampat, Pulau-Pulau Cantik di Manado Jadi Incaran Para Divers dan Traveler Sepenjuru Dunia”