Mengingat Kembali Perjalanan ke Tanah Papua

Hari ini 1 mei 2016.

Tak banyak yang tahu kalau 1 Mei adalah Hari Bergabungnya Papua ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aku pun demikian, aku baru mengetahuinya setelah ada pembahasan hal tersebut di grup Komunitas yang ku ikuti, Komunitas Sobat Budaya. Komunitas yang lekat dan tak terpisahkan dengan kebudayaan dan keindonesiaan.

Momen ini menjadi mengingatkanku akan perjalananku ke tanah Papua beberapa tahun silam, tepatnya pada bulan Juni 2014. Aku sempat menginjakan kaki di tanah Fakfak dan Sorong untuk beberapa hari.

Selama bulan juni 2014 aku menjadi delegasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) untuk mengikuti program Safari Bhakti Kesetiakawanan Sosial (SBKS) dari Kementrian Sosial Republik Indonesia. Program SBKS ini tidak hanya mengunjungi tanah Papua, tapi juga Nusa Tenggara, Ambon, Maluku dan Sulawesi. SBKS ini menjadi program yang ingin menjembatani Kedaulatan NKRI. Kami mengunjungi dan mengulurkan tangan kepada saudara-saudara kita di pulau-pulau terluar Indonesia, ke tempat-tempat terpencil yang membutuhkan sapaan dan perhatian dari kita. Dua puluh empat hari mengelilingi Indonesia bagian timur menggunakan kapal TNI AL, KRI Banjarmasin 524, juga memberikan kesan tersendiri.

Afriza, bersama dialah aku mewakili Universitas di Program SBKS

Begitu banyak cerita dan pengalaman yang bisa kudapat dari perjalanan ini selama 24 hari penuh mengelilingi Indonesia bagian Timur.

Papua, pulau tertimur Indonesia. Tanah yang kaya akan emas dan uranium, tapi tak lantas serta merta bisa menyejahterakan masyarakatnya.

Rombongan kami singgah di Sorong untuk mengirimkan Perahu Perpustakaan bagi masyarakat Sorong. Sehingga mereka bisa mengakses dan membaca buku-buku di dalamnya untuk membuka wawasan mereka.

Yang kutemukan di Sorong, ternyata ada banyak masyarakat dari luar Papua yang tinggal dan berkehidupan di sana. Aku menyempatkan diri untuk melihat-lihat pasar tradisional di Sorong, dan ternyata ada masyarakat Jawa juga yang berdagang. Mereka bertransmigrasi ke Papua untuk memulai kehidupan dan usahanya. Sepasang suami dan istri menjaga dan menjajakan pakaian dagangan mereka di sebuah took yang mereka rintis sejak bertransmigrasi ke tanah Papua.

Di pasar tradisional ini bisa kita temukan beraneka ragam pakaian, hiasan dan ornament khas Papua. Awalnya, ku kira batik hanya dimiliki oleh Jawa saja, tapi tidak! Papua pun memiliki motif batiknya sendiri. Ada beragam motif batik Papua, seperti burung cenderawasih, tifa, patung dan beragam ornament khas Papua lainnya. Kain-kain batik Papua banyak yang dominan berwarna terang dan cerah. Aku pun membeli kain-kain batik dengan motif burung cenderawasih, tifa, burung-burung, dan ornament Papua sebagai kenangan dari tanah ini.

Ceritaku di Sorong usai sudah, karena aku pun tidak terlalu lama singgah di Sorong.

Ada cerita yang lebih menarik dan mengejutkan ketika aku di Fakfak.

Setidaknya, kalian pasti tahu, bahwa di Papua juga ada kelompok yang bergejolak untuk membebaskan diri dari NKRI, Kelompok yang mengibarkan bendera Bintang Kejora. Sepintas aku dan rombonganku menemui insiden pengibaran bendera Bintan Kejora dari dalam hutan, ketika kami melakukan kegiatan di area Kantor Pemerintahan FakFak.

Sepintas, dengan insiden itu, aku pun cemas dan rombongan kami sedikit kaget. Yang paling kutakutkan saat itu adalah, apakah akan terjadi baku tembak? Syukurnya tidak. Pengibaran bendera itu pun hanya terjadi sesaat. Dan ketika keamanan setempat mencoba mengecek ke dalam hutan sudah tidak ada kelompok yang dicurigai di dalam hutan.

Dan kami pun bisa melanjutkan kegiatan kami untuk bersapa dengan masyarakat FakFak yang ingin kami bantu, sesederhana yang bisa kami lakukan. Berbagi sedikit keceriaan.

Di FakFak, aku menemui banyak fenomena sosial yang belum pernah ku ketahui sebelumnya secara langsung. Kurangnya akses kesehatan, listrik, pendidikan perumahan dan MCK yang layak. Aku menemukannya secara langsung di sini.

Aku berbincang dengan masyarakat Papua dan bermain-main dengan adik-adik di tanah Papua. Senyuman mereka penuh keceriaan dengan ragam hiburan yang coba kami berikan kepada mereka.

Bersama Bapak Pemain Alat Musik Tifa

Muda Mudi Papua yang Menyambut Rombongan SBKS di Tanah FakFak


Lihatlah Wajah Adik-Adik Papua ini

Sedikit cuplikan bantuan sederhana yang bisa kami berikan di Tanah Papua:


Comments

Popular posts from this blog

Berani Hidup Tanpa Uang Tanpa Utang?

Ketika Pengetahuan Budaya Indonesia Menjelma Dalam Kode-Kode Nusantara

7 Pesona Wisata Jawa Tengah