Pulau Air yang Penuh Air Mata

Jumat, 28 November 2014

Siang itu di kantor aku sedang mengecek perbincangan di grup “Trip Curug Barong” dari Komunitas Backpacker Jakarta. Ya, aku berencana untuk melepas penat dan melepas lelah dengan menikmati keindahan alam dan tentunya dengan keseruan-keseruan bermain air.

Well, sebelumnya mau cerita dulu tentang Komunitas Backpacker Jakarta. Komunitas ini adalah komunitasnya anak-anak backpacker yang suka ngetrip dan jalan-jalan. Foundernya Bang Edi M. Yamin. Jujur, gue ga kenal sama bang Edi sebelumnya, dan belum pernah tau tentang komunitas ini sebelumnya.

Modal gue tau tentang komunitas ini? Ya dengan browsing! :D

*** Beberapa hari sebelumnya ***

Beberapa bulan terakhir ini (beberapa bulan terakhir sejak November) gue merasa punya beban yang teramat berat. Mulai dari masalah pribadi, masalah hati, masalah pertemanan, masalah kerjaan, masalah di komunitas, masalah di keluarga. It’s so much burden in my mind. I wanna to talk to someone about my problems, yes I do, share something, but still there is (some) problems remain in my heart and my mind, which I can’t talk to somebody.

Then, I was crying whole night …

Gue memutuskan buat jalan, ngetrip atau apa pun itu, ikut kegiatan di alam bebas dengan teman-teman baru dan meninggalkan masalah-masalah yang ada sejenak. I just want be alone for a moment.

Dan akhirnya gue menemukan informasi tentang Komunitas Backpacker Jakarta, beserta kontak yang bisa dihubungi. Senangnya hati ini, dan gue langsung daftar untuk ikut trip yang diadain sama komunitas ini ke Curug Barong, 7 Desember 2014.

Yap, harusnya gue ikut trip ke Curug Barong, 7 Desember 2014!

Tapi siang itu, jumat 28 November, gue dikabari kalau ada orang yang cancel ikut ke Pulau Air. Dan, suddenly I decided to join this trip tonight!

Yap, mungkin ini hal tergila dan terngablu yang pernah gue lakuin, tanpa ada rencana tanpa pikir panjang gue langsung putusin buat ikut trip ke Pulau Air, dengan komunitas yang gue baru tahu, dengan orang-orang yang sama sekali gue belum pernah kenal sebelumnya, dan itu jauuuuh! Ke kepulauan Seribu.

Well, pulang kerja jam 6 sore gue langsung packing dan jalan ke pusat perbelanjaan buat beli logistik (bahan makanan, obat-obatan dan keperluan-keperluan lain) dan langsung menuju ke Kota Tua, sebagai titik kumpul. Malam itu, banyak peserta trip yang menginap di Kota Tua, jadi pagi-pagi sudah bisa jalan bareng ke Pelabuhan Muara Angke untuk menyebrang ke Pulau Air.

Voila! Gue sampe di Kota Tua.

Still, in the first time, I feel awkward with new people (yes, this is who I am, moreover my mind is still full of burden, dan gue masih berkutat dengan smart phone-yang di dalamnya ada grup yang lagi koar-koar karena ada masalah, banyak pertanyaan dan desakan ke diri gue, konsentrasi gue pun terpecah, badan gue emang di sini, tapi pikiran gue entah melayang kemana dengan berbagai masalah ini, and I can’t enjoy the conversation with those new people, but I forced myself to join in that conversation, introducing each other)

00.00 My smart phone low battery, and I turned it off. I turned it off my phone 2 days ahead, wanna leave the problems for a moment. Wanna enjoy my time for a while, with strangers in this trip, in thousands island, far away from the city.

That day is so tiring, I am sleepy, and then I sleep with some people, where the others still enjoy talk each other.

Subuh hari, kami sudah bersiap-siap menuju Pelabuhan Muara Angke. Dan perjalanan pun di mulai! Selamat tinggal kota Jakarta, selamat tinggal masalah (untuk sejenak)…

Kami menyebrang dengan kapal besar ke Pulau Pramuka. Ya, kami singgah dulu di sini untuk makan siang dan berganti kapal kecil untuk menyebrang ke Pulau Air. Dari Pulau Pramuka, Pulau Air sudah terlihat, tinggal beberapa menit lagi sampai di tempat tujuan.

Bayangan ku sesampainya di Pulau Air, sungguh berbeda dari apa yang ku pikir sebelumnya. Ku kira, Pulau Air ini adalah pulau berpenghuni dan kami akan tinggal di home stay seperti perjalananku ke Pulau Pari sebelumnya. Ternyata tidak! Pulau Air ini, pulau kosong dan tak berpenghuni. Katanya, pulau ini milik pribadi, dan dikelola oleh beberapa orang untuk tujuan wisata.


Ini Temen-teman kelompok gue, ada Ka Boru, Bang Derry, Ka Rezeki, Novi, Ka Indiana, dll

Kami, mendarat di salah satu sisi hutan dan mendirikan tenda untuk bermalam. Pengalaman yang benar-benar baru buat gue :D


Membangun Tenda di Pulau Air

Sore itu, kita besiap untuk snorkeling!


Meninggalkan Campground, (tapi bukan meninggalkan kenangan :p), Menuju Tempat Snorkeling>

Gue sudah bersiap dengan pelampung, kaki katak, kacamata dan alat pernafasan. Dan lagi-lagi ga seperti yang gue bayangin sebelumnya. Gue pikir, kita akan snorkeling dari daratan seperti di Pulau Pari. Tapi ini engga! Kita harus terjun dari kapal langsung ke laut buat snorkeling. Dan gue takut asli hahahhahaa, secara gue ga bisa-bisa banget berenang :D


Mari Kita ber-Snorkeling Ria!

Gue masih gamang buat terjun ke laut, dan byuuuuuuuuurrrrrrr…

Gue diceburin sama Novi, hahahaa… kenalan baru gue di trip ini.

Yap, sudah lah gue di laut dan ber-snorkeling ria. Lautnya bagus, airnya jernih, sayang batu karang di sini tak secantik di Pulau Pari, banyak batu karang yang rusak, ahh disayangkan sekali, batu-batu karang di sini rusak. Mungkin karena diinjak oleh para wisatawan.

Snorkeling berlanjut ke laut yang lebih dalam, warna airnya sudah semakin gelap, tekanan airnya pun semakin kencang. Sesak dada ini rasanya. Dan tiba-tiba kaki gue kram, ya sudah gue memutuskan untuk naik lagi ke kapal.

Back to campground…

Yap, udah gue certain sebelumnya kalo kita bermalam di hutan bukan di home stay dan di sini ga ada kamar mandi, kita mandi rame-rame di ruang terbuka, hahahaa, dengan bekal air tawar (yang sebetulnya payau) yang sudah dibeli dari Pulau Pramuka.

Seselainya bersih diri, kami masak-masak dengan menggunakan nesting dan logistik yang kami bawa. Ini juga pengalaman pertama buat gue, masak-masak di hutan pake nesting, pake kompor gas, pake kompor paraffin, seru banget! (dalam hati, ohh ini toh peralatan masaknya anak-anak gunung, heheee)


Yuk Masak-Masak


Suasana Makan Malam Bersama

Hari pun berganti dengan malam, beberapa orang asik di tepian bernyanyi-nyanyi lagu Batak. Ahh seru sekali rupanya mereka.



Ini saatnya api unggun dan tukar kado!


Abaikan Muka-muka kami yang kucel ini hihihi :D


Yang ikut trip ini dari berbagai usia dan latar belakang dari yang umur 5 tahun sampai ada oma-oma yang ikut, hehehe

Berlanjut dengan nyanyi-nyanyi. Banyak yang dangdutan :D

Awalnya gue duduk diem aja liatin mereka pada nyanyi dan joget-joget. Ahhh tapi gue di sini mau ngilangin stress dan lupain sejenak masalah yang ada di kota. Gue ikutan nyanyi-nyanyi dan joget-joget sampe pagi sama mereka hahaha…

03.00 sepertinya, gue mulai capek dan pengen istirahat dan memandang bintang-bintang di langit, sayang langit mendung dan penuh awan. Gue milih tidur di luar tenda, berbaring sama beberapa yang lain, memandang langit malam yang tak berbintang.


Foto dulu yah sebelum meninggalkan Pulau Air

Pagi hari kami sudah bergegas untuk melanjutkan perjalanan, ku pikir kami akan langsung pulang. Tapi tidak, kami mampir ke Pulau Keramba dulu, melihat penangkaran hiu.





Di Pulau Keramba

Perjalanan pun dilanjut ke Pulau Panggang, untuk berpindah ke kapal besar menuju Pelabuhan Muara Angke.

DAN PERJALANAN PULANG INI EPIC!

Kapal besar telah berlayar dari Pulau Panggang, kami saling berbincang dan ada yang bernyanyi. Tapi, ombak besar datang! Kapal pun bergoyang, kami kira ini ombak biasa, dan masih melanjutkan perbincangan. Tapi, siapa sangka, ombak semakin besar, dan sang nahkoda (yang masih kurang berpengalaman ini) tidak berani melanjutkan perjalanan, kapal pun kembali bersandar di Pulau Panggang.

Hiruk pikuk terjadi di kerumunan peserta, ada yang ketakutan ada yang bersikap tenang, ada yang hendak menangis. Dan kita terancam tidak bisa kembali ke Jakarta sore ini. Sedangkan banyak peserta yang harus bekerja esok hari, gue juga.

Ada yang berselisih paham, harus tinggal semalam di Pulau Panggang, ada yang memaksa harus menyebrang sore ini juga. Dan gue pun bingung. Perjalanan gue ini tanpa pamit ke orang tua, kalau pamit belum tentu diperbolehkan. Atasan gue pun ga tau kalau gue lagi pergi ke Kepulauan Seribu. Ada penyesalan sesungguhnya dalam hati, “kenapa engga pamit ke orang tua yah.”

Adzan Dhuhur berkumandang, beberapa orang bergegas ke Masjid untuk sholat, beberapa yang lain masih berdebat, dan beberapa yang lain bingung harus bagaimana.

Balik dari masjid, orang-orang sudah ramai naik ke kapal besar, dan gue tanya, “Kak, ini pada balik ke Jakarta?” … “Iya dek, kamu mau ikut ga?”

Dan dengan segala resikonya, gue ikut rombongan ini ke kapal besar untuk kembali ke Jakarta, kapal sudah mulai berjalan dan gue harus lari-lari masuk ke kapal„, deg-degan juga takut ga bisa dan malah nyemplung ke air

And I am in that ship! Penuh!

Kapal ini usianya sudah tua, keliatan banget dari kayu-kayunya dan bentuk kapalnya, tapi konon nahkodanya amat sangat berpengalaman.

Di tengah perjalanan bukan tanpa hambatan dan ombak. Sebaliknya! Ombak semakin kencang! Kapal terombang-ambing, suara reot kayu tua semakin mendramatisir suasana. Novi, ketakutan dan ingin kembali lagi ke Pulau Panggang, but it’s totally impossible!

Banyak bayi dan anak-anak kecil menangis, meraung, hingga yang dewasa pun demikian. Gue hanya berusaha kalem dan setenang mungkin. Gue pikir, dulu pas di KRI Banjarmasin gue bisa kok lewatin parahnya ombak di Perairan Ambon, but the others logic said, “heyy itu pake Kapal laut, kapal TNI AL buat perang, kapal besi, kapal yang jauh lebih besar dan lebih aman, ini kapal kayu, tua dan reot tanpa pengamaman apa pun”…

Gue tetep kalem dan tenang, ga ada rasa sedih, takut, atau apa pun, semacam mati rasa, Cuma satu yang gue sesali waktu itu, “Kenapa gue ga pamit dulu sama orang tua pas mau jalan”, Cuma itu. Karena, kalau ada apa-apa dalam perjalanan ini, orang tua ga tau, temen-temen deket gue g tau, orang kost-an g tau, dan gimana dengan orang tua gue nantinya? Jika terjadi apa-apa pun, gue ga akan pernah bisa kasih penjelasan…

Alhamdulilllah!

We arrived safely at Kali Adem Harbor


Sampai di Pelabuhan Kali Adem>

Gue langsung kasih kabar orang tua, sesampainya di Pelabuhan Kali Adem. Karena sebetulnya, ternyata selama 2 hari itu, orang tua gue sms dan minta kabar.

Well, gue merasa bersyukur banget, seneng dan lega…

Perjalanan yang EPIC! Perjalanan ke Pulau Air yang penuh air mata.

And glad to know this community met new friends, friend to trip with, to travel with :)

Comments

Popular posts from this blog

Icip-icip Bakso Bom "Beranak" Mas Erwin

Ketika Pengetahuan Budaya Indonesia Menjelma Dalam Kode-Kode Nusantara

“Saingi Raja Ampat, Pulau-Pulau Cantik di Manado Jadi Incaran Para Divers dan Traveler Sepenjuru Dunia”