Kisah Seorang Amatir Mendaki Gunung Parang


Badega Gunung Parang, Desa Cihenyi, Purwakarta

Sabtu pagi, aku bersama dua temanku, Inel dan Yudith, sampai di obyek wisata Badega Gunung Parang, Purwakarta. Selama dua hari ke depan kami akan tinggal di sini, hendak mengeksplor Purwakarta. Obyek wisata ini, dibangun layaknya kampung budaya, terdapat saung-saung yang terbuat dari bilik bambu menghadap gunung parang. Para wisatawan bisa menginap di sini, aku pun menginap di salah satu saung yang tepat menghadap gunung parang.

Sabtu-Minggu, 19-20 April, kami memang sudah menjadwalkan untuk ke Purwakarta, jalan-jalan sekaligus melepas penat setelah riuh dengan hiruk pikuk pekerjaan, komunitas, dan urusan bisnis di Jakarta. Ku pikir, kita hanya akan jelajah kota Purwakarta, tidak terlintas dalam pikiranku, kalau jalan-jalan kita kali ini ke Purwakarta, akan juga mendaki gunung, hi hi hi :D

Aku memang orang yang suka berkeliling, berjalan-jalan, kemana pun! Ke pantai, keliling kota, ke desa, ke kota, (atau mungkin ke gunung?!). Jujur, aku belum pernah mendaki gunung. Ya, walau pun aku sudah pernah berjalan kaki menjelajahi baduy luar dan baduy dalam, yang katanya, trek-nya lebih susah dibandingkan gunung papandayan. Atau ke gunung kapur?! Yang entah, itu bisa disebut gunung atau bukan, ketinggiannya hanya, mungkin dibawah 2.000 mdpl?

Berbeda dengan dua temanku, mereka sudah pernah beberapa kali mendaki gunung. Mereka amat antusias untuk mendaki gunung parang dan melihat sunset dari puncaknya.


Gunung Parang dilihat dari rumah wisata Badega Gunung Parang

Itulah secuil penampakan tentang Gunung Parang yang akan kami daki esok dini hari.

Foto diambil dari pelataran saung Badega Gunung Parang berikut:



Jadilah, Minggu dini hari, sekitar pukul 03.00, diantar seorang guide lokal kami mendaki gunung parang. Gunung Parang ini adalah gunung batu. Selain menjadi objek aktivitas pendakian, gunung parang juga merupakan objek climbing. Banyak para pemanjat yang melakukan climbing di gunung parang. Dari saung Badega Gunung Parang pun kita sering kali bisa melihat para pemanjat yang bergelantungan di sisi Gunung Parang.

Sebagai seorang amatir, yang belum pernah naik gunung sungguhan, dan tidak tahu sama sekali kalau jalan-jalan kali ini akan naik gunung, aku sedikit kaget! Ha ha ha :D, lihat saja, aku hanya memakai flatshoes dan tidak membawa sepatu/sendal untuk trekking :P. Trek pendakian ini sungguh sulit, banyak bebatuan, dan hampir semua jalur trek didominasi oleh bebatuan. Hari masih amat gelap, batu yang tajam dan tanah yang basah serta licin, mempersulitku dalam melangkahkan kaki mengikuti teman-temanku.

Di tengah perjalanan, sempat juga terpeleset (atau terpelosok?) dan hampir jatuh ke bawah, dengan kanan-kiri jurang! karena salah menumpu pada tanah basah yang licin. Yudith membantu ku untuk menggeser badan ke tanah yang lebih kering, dan mencoba berdiri lagi.

Selama hampir tiga jam perjalanan menuju summit pertama Gunung Parang, aku berhenti beberapakali (mungkin teramat sering?) karena nafas yang tersengal-sengal. Dan seringkali kaki mengantuk batu, sehingga terasa nyeri. Hampir tiga jam perjaanan, dan matahari sudah mulai nampak bersemu merah.

Kita tidak bisa mencapai puncak Gunung Parang, batas terjauh pendakian kita adalah summit pertama Gunung Parang. Jarak ke puncak masih amat jauh, dan kalau dilanjutkan pun, matahari sudah tinggi di atas kepala. Kata Inel, muka ku sudah pucak, mungkin karena kelelahan dan kehabisan nafas hahaha :D

Menurut mereka, Inel dan Yudith, yang sudah pernah mendaki gunung sebelumnya, trekking Gunung Parang ini memang sangat susah. Trekking ini cocok bagi para pendaki yang ingin merasakan rute baru, adrenalin baru, dan tingkat kesulitan yang baru. So, if you are a mountaineer, are you dare to hike this mountain?!

Ya ini secuil pemandangan yang bisa didokumentasikan oleh Inel di summit pertama Gunung Parang, ketika matahari memunculkan semburat warna merah:




Waduk Jatiluhur dan Gunung Lembu terlihat dari summit Gunung Parang




Perbukitan dan Kawasan Gunung Lembu yang Terlihat dari Summit Gunung Parang

Begitulah kisahku, seorang amatir yang mencoba mendaki Gunung Parang. Mungkin terbesit penyesalan dan kekecewaan di hati kedua temanku, karena gagal mencapai puncak dan tidak bisa melihat semburat cahaya matahari yang terbit, serta pemandangan Purwakarta dari puncak Gunung Parang.



Comments

Popular posts from this blog

Icip-icip Bakso Bom "Beranak" Mas Erwin

Ketika Pengetahuan Budaya Indonesia Menjelma Dalam Kode-Kode Nusantara

“Saingi Raja Ampat, Pulau-Pulau Cantik di Manado Jadi Incaran Para Divers dan Traveler Sepenjuru Dunia”