Explore Oud Batavia

Sabtu pagi, 14 Maret 2015, aku bergegas ke Shelter TransJakarta Bunderan Senayan menuju Kota Tua. Ya, hari ini aku dan teman-teman dari Sobat Budaya Jakarta dan Culture Trip ID akan meng-Explore Oud Batavia!

Oud Batavia atau yang sekarang dikenal sebagai Kota Tua Jakarta, dulunya adalah tempat pemukiman orang-orang dari berbagai pelosok Nusantara yang berdagang dan berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kemudian lama-lama bermukim di kawasan ini. Tidak hanya orang pribumi, tetapi juga orang-orang dari Melayu, Arab, Tiongkok, Belanda, Portugal, Inggris dan yang lainnya.

Kawasan di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa akhirnya dibangun dan menjadi pemukiman yang dinamai Batavia. Nama Batavia ini pun kemudian bergeser menjadi Betawi. Karena pemukiman ini terdiri dari orang-orang dari berbagai wilayah dan kebudayaan, maka budaya Betawi adalah hasil akulturasi dari berbagai budaya tersebut, oleh karena itu budaya Betawi disebut juga sebagai budaya mestizo.
Ya itu aja sih secuil sejarah tentang Oud Batavia hehee :D

Yup, mari kita Explore Oud Batavia!

Sebetulnya ada banyak banget objek wisata dan objek budaya yang ada di kawasan Kota Tua. Tapi kali ini, aku dan teman-teman cuma berkunjung ke beberapa tempat nih, Museum Wayang, Perpustakaan Museum Fatahillah, Rumah Akar, Museum Bahari dan Menara Syahbandar. Maklum mengitari itu saja sudah bikin kaki gempor heheee.

Objek-objek wisata dan budaya yang lainnya, akan ditulis nanti-nanti ya, di session Explore Oud Batavia part 2! :D

Museum Wayang!



Museum ini jadi destinasi pertama nih di kegiatan Explore Oud Batavia ini. Untuk masuk ke Museum Wayang kita cukup membayar tiket seharga Rp. 5.000,00 (dewasa), dan Rp. 3.000,00 jika kita menunjukan kartu mahasiswa atau kartu pelajar.

Aku memang sudah beberapa kali menyambangi tempat ini, tapi seakan tak pernah habis untuk dieksplorasi! Selalu ada objek-objek yang baru sempat aku lihat, atau karena memang aku kurang jeli dan perhatian sama kamu? Eh sama objek-objek budaya yang ada di Museum Wayang maksudnya.

Jadi di sabtu pagi ini museum wayang ini masih (amat) sepi. Ketika bertanya ke petugas, petugas menceritakan kalau, museum akan mulai ramai di siang hari dan sore hari. Dan juga, setiap hari Minggu biasanya akan ada pentas budaya yang rutin digelar. Jadi, kalau kamu mau ke Kota Tua, terutama mau ke Museum Wayang lebih baik di hari Minggu. Aku sendiri beberapa minggu lalu, ke Museum Wayang dan ada gelaran Wayang Beber Metropolitan. Gelaran wayang ini menarik, karena biasanya aku melihat gelaran wayang kulit atau wayang golek. Aku baru melihat gelaran wayang beber ini pertama kali.


Ini Ivo, salah satu teman yang ikutan acara Explore Batavia. Tapi aku bukan mau kenalin Ivo-nya yah :p. Nah itu di belakang Ivo, ada semacam workshop yang jual pernak-pernik dan ornamen-ornamen etnik dan wayang-wayangan

Muter-muter dan foto-foto di Museum Wayang sudah! Perut terasa lapar yah, maklum pagi-pagi ke Kota Tua tanpa sarapan dulu. Akhirnya aku dan teman-teman makan nasi pecel di pelataran depan Museum Kota Fatahillah.


Ini Rahma, teman kuliahku, sebelum makan selfie dulu ya sama Simbok yang jualan pecel :p

Perpustakaan Museum Fatahillah

Nah ini salah satu tempat yang baru aku lihat setelah beberapa kali main-main ke Kota Tua Jakarta. Jadi, perpustakaan ini adalah semacam perpustakaan mini yang hanya pakai tenda seukuran kurang lebih, berapa ya, 20x10 meter mungkin, di pelataran depan museum wayang.
Perpustakaan ini menyediakan cukup banyak koleksi buku, terutama buku-buku tentang budaya, betawi, nusantara dan Indonesia.

Dijaga oleh seorang bapak tua yang berpakaian nyentrik. Ya! Nyentrik, karena mengenakan baju seperti baju adat orang Madura, warna coklat dan garis-garis, serta pakai topi bulat seperti orang londo (orang belanda) jaman dulu. Topi yang bisa kita lihat di penyewaan sepeda depan Museum Fatahilah. Dan Bapak ini juga memarkir sepeda onthelnya di depan perpustakaan ini. Bapak ini juga sudah hafal dengan kawasan Kota Tua hingga Sunda Kelapa, aku sempat bertanya-tanya kepada bapak ini, bagaimana aku dan teman-teman bisa menuju Museum Bahari yang lokasinya berada di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa.

Di sini tersedia beberapa kursi lipat yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk-duduk sembari membaca buku. Pagi itu, ada beberapa anak-anak yang sedang asik memilih buku dan membaca buku.


Nah ini dia sedikit penampakan dari Perpustakaan Museum Fatahillah

Rumah Akar
Rumah akar ini, konon katanya seram. Banyak pengunjung yang mengalami kejadian-kejadian mistis di sini. Tapi, banyak juga loh orang-orang yang melakukan foto pre-wedding di sini. Untuk masuk ke dalam, biayanya cukup mahal, Rp.100.000 untuk 8 orang per lima belas menit. Hohohoho ~





Museum Bahari



Museum Bahari ini lokasinya cukup jauh dari Kawasan Kota Tua, kita harus naik angkot sekali menuju Museum Bahari. Ini pertama kalinya aku ke Museum Bahari dan ke kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa.
Untuk masuk ke Museum Bahari sama saja seperti masuk ke Museum Wayang, cukup membayar tiket seharga Rp. 5.000,00 (dewasa), dan Rp. 3.000,00 jika kita menunjukan kartu mahasiswa atau kartu pelajar.

Museum ini sangat besar, ada beberapa bangunan dan terdiri dari beberapa tingkat. Tapi, museum ini sungguh sangat sepi. Ketika di depan museum bahari, kami hanya melihat beberapa orang wisatawan.

Museum ini banyak menampilkan koleksi perahu-perahu kayu, seperti kayu Phinisi dan beberapa jenis perahu lain di lantai 1. Aku kurang tertarik dengan objek-objek ini.


Berlayar yuk dengan bahtera (kapal) ini, Bahtera rumah tangga :p

Kemudian, naik ke lantai 2. Daaaannnn, pemandangan di lantai 2 ini benar-benar membelalakkan mataku! Kereeeenn loh!

Di lantai 2 ini ada berbagai macam objek budaya, patung-patung, film, cerita dan dongeng yang dipajang dan ditata dengan cantik. Mengisahkan sejarah maritime dan bahari Indonesia masa lampau. Ada juga beberapa objek yang memiliki sensor khsusus, sehingga ketika ada pengunjung yang mendekat, secara otomatis akan terputar film documenter tentang sejarah maritim masa lalu.


Wow ada putri duyung!

Ada juga semacam toko (bukan toko betulan yang pasti) rempah-rempah. Di dalam toko tersebut kita bisa melihat beberapa jenis rempah-rempah Indonesia, seperti kayu manis, cengkeh, kunyit, jahe dan ada beberapa jenis rempah yang aku baru tahu.


Rempah-rempah Nusantara. Yang dulu jadi komoditi perdagangan utama di Nusantara

Selama berjalan menyusuri bangunan ini di lantai 2, di gedung yang berbeda, kita juga menemukan perpustakaan bahari. Sayangnya, perpustakaan ini tutup, sehingga aku tidak bisa melihat-lihat ke dalam perpustakaan.


Ini dia perpustakaannya, dan please abaikan yang foto itu !

Di penghujung ruangan kita juga bisa melihat ada alat pengerek untuk menaik-turunkan benda dari lantai 1 ke lantai 2 dan sebaliknya.


Ini dia alat pengereknya, dan itu bukan penampakan! Itu Indah, hehee :D

Memasuki sisi gedung yang lainnya, kita juga melihat ada Café Bahari. Dan, tempat ini juga tutup, padahal kami amat kehausan dan kelaparan, selain kepo dengan isi café bahari tentunya kami juga ingin menikmati sajian makanan dan view dari café ini.


Ini Museum Bahari yang tutup itu huhuhu :(


Ini salah satu view di pelataran Museum Bahari. Sekilas mirip Lawang Sewu yah, hehee :D

Sebetulnya masih banyak objek-objek yang menarik di Museum Bahari ini. Dan buat kamu yang ada di Jakarta tapi belum pernah ke sini, coba deh sekali-sekali kesini, worth it to visit deh tempatnya :)

Menara Syahbandar

Menara ini cukup tinggi, dan kita harus menaiki tangga demi tangga untuk sampai ke bagian teratas dari menara ini. Capek! Ketika menaiki tangga demi tangga yang berwarna merah itu, yang terlintas dipikiranku adalah, “wah ini seperti museum Anne Frank”, hahaha. Ya, aku memang belum pernah ke Museum Anne Frank, tapi aku pernah membaca tulisan tentang museum ini.


Narsis di Menara Syahbandar

Setelah, menaiki tangga demi tangga, dengan nafas yang tersengal-sengal akhirnya sampai juga di bagian teratas dari menara ini. Di bagian ini, ada 3 sisi (seperti jendela) yang terbuka, sehingga kita bisa melihat Oud Batavia dari atas. Sejauh mata memandang aku bisa melihat beberapa kapal yang sedang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa. “Oh itu toh yang namanya Pelabuhan Sunda Kelapa” gumamku dalam hati. Pelabuhannya kecil menurutku, dan tidak terlalu banyak aktivitas yang kulihat pada siang hari itu. Dan siapa sangka, kalau dahulu kala, pelabuhan ini adalah pelabuhan yang memiliki aktivitas perdanganan sangat tinggi, dan juga menjadi tempat bersejarah, cikal bakal Jakarta di masa sekarang.

Dari atap menara ini aku bisa melihat pelubuhan Sunda Kelapa dan kapal-kapal yang sedang bersandar. Aku juga bisa melihat bangunan peninggalan VOC di seberang jalan.

Dan akhirnya kaki ini berlabuh ke Taman Ismail Marzuki. Tempat yang menjadi favorit akhir-akhir ini. Tempat yang memiliki kisah dan ceritanya sendiri, dalam penggalan perjalananku.

Comments

Popular posts from this blog

Berani Hidup Tanpa Uang Tanpa Utang?

Ketika Pengetahuan Budaya Indonesia Menjelma Dalam Kode-Kode Nusantara

7 Pesona Wisata Jawa Tengah